close

Puisi Dan Tulisan Motivasi

 “Ah, senantiasa Malaysia jadi mimpi jelek Timnas Garuda!” Aku menggerutu. “Di Final Piala AFF 2010 kalah sama Malaysia. Sea Games 2011, kalah lagi sama Malaysia.”
Tapi alasannya adalah rasa ingin tau, karenanya ku-klik pula video tersebut.
Ternyata video itu menayangkan hasil dr Kejuaraan Dunia Lari 100 meter U-20, di Finlandia. Yang menawan, satu dr delapan peserta kontes, berasal dr Indonesia. Pemuda itu mengenakan kostum lari warna putih & celana merah. Di dadanya tertulis; M. Zohri.
M. Zohri berada di line nomor 8. Paling ujung, sebelah kanan. Setahuku, dlm olahraga sprint, line 8 bukanlah line favorit juara. Bisa dibilang, itu yaitu lintasan bagi peserta non-unggulan. Sisi tengah-lah yg menjadi lintasan peserta favorit juara. Usain Bolt, pelari tercepat dr Jamaika, selalu ditempatkan di line tengah dikala berlomba.
Apa keuntungannya?
Peserta yg berada di lintasan tengah, akan bisa melirik lawan kanan-kirinya. Jadi ia bisa mengukur seberapa cepat lawan berlari. Pun, bidikan kamera, biasanya akan tertuju pada pelari di lintasan tengah. Peserta favorit gitu, loh. Dan di perlombaan yg diikuti M. Zohri itu, lintasan tengah diisi oleh duo sprinter asal Amerika Serikat; Anthony Schwartz & Eric Harrison. Dua pelari inilah unggulannya.
Maka, tatkala letusan pistol berbunyi tanda kontes dimulai, tak ada yg menyangka bahwa M. Zohri, melesat di sisi paling kanan lintasan. Berlari sejajar dgn peserta unggulan. Bahkan dua komentator baru menyebut nama M. Zohri dikala seluruh penerima nyaris menjamah garis finish.
Hingga … Saat garis finish sukses dilewati para sprinter dgn waktu nyaris bersamaan, kudengar salah satu komentator berucap dgn nada ragu,
“I think Zohri take the first place.”
Seluruh penerima menatap layar di segi stadion, menanti pengumuman. Nafas mereka tersengal. Satu-dua terlihat memegangi lutut.
Sampai, sekitar sepuluh detik kemudian, layar pengumuman menempatkan nama M. Zohri di urutan teratas. Seketika M. Zohri berlari dgn senyum merekah. Sampai pada satu titik, di tengah lintasan itu ia bersujud syukur. Kamera wartawan mengabadikan momen saat Zohri meletakkan kening di tanah. Selebrasi yg sungguh jarang terlihat di kejuaraan atletik.
“Oh, surprise! Zohri is the new world champions.” Komentator laki-laki berteriak semangat.
Komentator satu lagi, perempuan, menimpali tak kalah semangat, “Incredible! He is start in line eight.”
Kamera lalu berubah menyuting Anthony Schwartz & Eric Harrison. Nampak jelas dr mimik muka duo pelari asal Negeri Paman Sam, bahwa mereka tak yakin hal ini terjadi. Pelari unggulan dikalahkan oleh pelari di lintasan paling ujung. Mereka geleng-geleng kepala. Seperti mimpi saja, tak menyangka mereka hanya mampu menempati juara kedua & ketiga.
Setelah itu, di layar handphone, kulihat Anthony Schwartz & Eric Harrison berlari di segi lapangan & mengambil bendera Amerika Serikat yg diberikan oleh crew, masing-masing satu. Kemudian mereka berfoto dgn membentangkan bendera tersebut. Sedangkan sang juara, M. Zohri, berlari ke arah penonton, bertepuk tangan sendirian, ia tampakkebingungan saat berlari di sisi lapangan –yang nanti gue tahu bahwa ternyata ia bingung mencari bendera merah putih untuk dibentangkan di punggungnya–. Tak ada yg memberinya sang saka merah putih. Sampai dikala wartawan memanggilnya untuk berfoto bareng juara kedua & ketiga, M. Zohri tak memegang bendera tanah airnya. Pemuda hitam manis itu kesannya berfoto di tengah. Tanpa bendera. Diapit oleh dua pelari yg membentangkan bendera Amerika Serikat.
Entah, kenapa tak ada bendera Indonesia yg disiapkan panitia untuk selebrasi kemenangan M. Zohri? Tapi besar kemungkinan, panitia tak menduga bahwa kejuaraan ini akan dimenangkan oleh pelari asal Indonesia.
Aku memandang layar handphone sambil tersenyum.
“Mirip mirip yg dialami Rio Haryanto,” gue bergumam.
Ya, hal serupa pernah dialami Rio Haryanto. Mantan pembalap F1 asal Solo itu pernah berkisah: Dulu, saat race GP3 seri kedua di Turki tahun 2010, dengan-cara mengejutkan Rio Haryanto menjadi juara. Sebagaimana akhlak perayaan juara, panitia akan mengibarkan bendera negara & memutar lagu kebangsaan asal pembalap yg finish di posisi pertama.
Anehnya, ketika Rio Haryanto sudah naik podium, bendera Indonesia belum terpasang. Lagu Indonesia pun tak berkumandang. Lama sekali Rio menunggu prosesi perayaan kemenangannya.
Usut punya usut, ternyata panitia kontes tak mempersiapkan bendera Indonesia, pula tak punya file lagu Indonesia Raya. Mereka tak menyangka ada pembalap Indonesia yg akan menjuarai balapan. Akhirnya, setelah lama dlm kebingungan, panitia terpaksa meminjam bendera pembalap asal Polandia (Putih-Merah), kemudian membaliknya menjadi bendera Indonesia (Merah-Putih). Sedangkan untuk permasalahan lagu kebangsaan, panitia pribadi download lagu Indonesia Raya melalui Youtube dikala itu juga.
Beginilah rasanya jadi ‘Juara yg Tak Dirindukan’.
Kembali kutatap layar. Setelah beberapa usang, balasannya M. Zohri menerima sang saka merah putih. Entah dr mana. Lalu dgn wajah sarat kebahagiaan, M. Zohri berlari kembali menuju tengah lintasan & mengangkat tinggi-tinggi bendera tersebut. Tak ada tepuk tangan semarak yg ia terima dr penonton. Tapi perjaka 18 tahun asal Lombok, NTB, itu nampak tak peduli. Terus berlari mengelilingi stadion Tampere, Finlandia, sambil mengibarkan Merah Putih.
“Ah, jadi ingin tau sama pahlawan satu ini.”
Segera kubuka Google, memasukkan kata ‘M. Zohri Pelari’ di kolom search. Klik.
Aku tak bisa menahan rasa haru kala mendapati bahwa M. Zohri ialah anak yatim piatu. Ibunya meninggal dikala ia masih Sekolah Dasar, & Ayahnya meninggal dunia setahun lalu, persis tatkala ia sedang melaksanakan pemusatan latihan untuk menghadapai salah satu kejuaraan. Dengan berat hati, M. Zohri izin mengundurkan diri dr kejuaraan demi melihat jasad sang Ayah untuk terakhir kali.
Dan saat itu juga gue terhenyak menyaksikan kawasan tinggal M. Zohri di Lombok. Hunian itu lebih pantas dikatakan gubuk dibandingkan dengan rumah. Lantainya cuma tanah, sedangkan dindingnya yang dibuat dr anyaman bambu. Nampak dinding itu berlubang di sana-sini. Bahkan di beberapa segi dinding ditutup pakai koran bekas. Atapnya banyak yg bolong. Aku tak bisa membayangkan bagaimana bila hujan lebat memukul rumah tersebut? Kita pula akan miris melihat daerah tidurnya. Cuma dipan beralaskan tikar, tanpa kasur empuk. Kalau ada barang yg dianggap mewah, mungkin cuma lemari tak berpintu yg teronggok di segi rumah. Berisi beberapa pakaian milik M. Zohri. Benar-benar memprihatinkan.
Di sana, di stadion Tampere, Finlandia, M. Zohri berlari dgn paras kebingungan, mencari bendera merah putih untuk ia kibarkan tinggi-tinggi. Membuktikan pada dunia, bahwa negara ini ada. Negara ini layak dipertimbangkan.
Sedangkan kami di sini, terpisah sepuluh ribu kilometer jarak darinya, belum pula berhenti saling sikut, saling olok, karena berlainan persepsi politik.
Di sana, dgn usia yg masih belia, 18 tahun, M. Zohri sudah bisa mengharumkan nama bangsa. Benar-benar mengharumkan nama bangsa dlm makna sebenarnya.
Sedangkan kami di sini, yg lahir jauh lebih permulaan darinya, masih sibuk mainan tik-tok, bergaya gila sambil diiringi lagu, “Emang lagi manjah, lagi pengen dimanjah, pengen berduaan dgn dirimu sajaaa… Emang lagi syantik, namun bukan sok syantik. Syantik-Syantik gini cuma untuk dirimuuuu…!!!”
***
Surabaya, 13 Juli 2018
Fitrah Ilhami