Author: rizal

Mencegah Kecewa, Jangan Berharap pada Manusia, Berharap pada Allah Saja

Mencegah kecewa, jangan berharap pada manusia cukup Allah saja.

Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia, quote ali, jangan berharap pada manusia
Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia

Kita pasti pernah berharap kepada sesama manusia. Misalnya berharap kenaikan gaji? Berharap promosi jabatan? Berharap dicintai balik?

Namun, apa yang kita rasakan ketika keinginan tersebut tidak terwujud? Atau hanya menjadi lamunan semata? Pastinya kecewa, sedih dan marah kan? Kenapa hal itu bisa terjadi?

Mempunyai harapan dan cita-cita adalah hal yang normal. Namun bila terlalu berharap kepada orang lain, maka kita akan selalu memikirkan itu bahkan sampai terobsesi dan lupa pada kenyataan.

Jika sudah lupa pada kenyataan akan membuat akal sehat kita tertutup. Padahal kenyataan tidak selalu indah. Bisa saja harapan tersebut sirna dan membuat stress dan kecewa.

Lalu sebaiknya apa yang harus dilakukan supaya tidak terlalu berharap pada manusia? supaya mencegah rasa kecewa dan marah? apalagi ketika harapan selama ini tak menjadi kenyataan?

Rasa kecewa muncul apabila menggantungkan harapan yang terlalu tinggi pada orang lain. Padahal orang tersebut adalah manusia biasa yang memiliki kekurangan.

Mereka sama seperti kita, makhluk tak berdaya tak berkekuatan kecuali atas izin Allah SWT. Karena itu mari kita kurangi berharap besar pada orang lain. Cukup Allah saja.

Simak nasihat-nasihat bijak Sayyidina Ali dan Imam Syafii ini

Sayyidina Ali pernah berkata:

“Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia.” (Ali bin Abi Thalib)

Imam Syafi’i berkata:

Ketika kamu berlebihan berharap pada seseorang, maka Allah akan timpakan padamu pedihnya harapan-harapan kosong. Allah tak suka bila ada yang berharap pada selain Dzat-Nya, Allah menghalangi cita-citanya supaya ia kembali berharap hanya kepada Allah SWT.”

Sebaik-baiknya berharap hanyalah kepada Allah

Allah berfirman dalam surat Al insyirah ayat 8:

وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَبْ

“dan hanya kepada Rabb-mu hendaknya kamu berharap”

Pernahkah kita berdoa meminta pada Allah Subhanahu wa Ta’ala?

Allah SWT adalah Rabb sang Pencipta ummat manusia dan seluruh makhluk di dunia ini. Dia Maha Mendengar Doa para hamba-Nya. Dialah Allah Khalik  di alam semesta ini.

Apabila seseorang hanya berharap kepada Allah, maka Inshaa Allah apapun hasilnya, kita akan pasrah dan tenang, karena itu sudah kehendak-Nya.

Seseorang akan menyerahkan seluruh urusannya kepada Allah. Sekalipun yang diterima adalah berlawanan dengan apa yang diinginkannya.  Jangan berharap pada manusia, cukuplah pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wallahu Alam.

{ 1 Comment }

Resensi Buku Sirah Nabawiyah – Safiyyurrahman Al-Mubarakfuri – Penerbit Jabal

Resensi Buku Sirah Nabawiyah Karya Syaikh Safiyyurrahman Al-Mubarakfuri

Resensi Buku Sirah Nabawiyah

Resensi Buku Sirah Nabawiyah

  1. Judul Buku : Sirah Nabawiyah
  2. Penulis : Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri
  3. Penerbit : Penerbit Jabal
  4. Ketebalan Buku : 648 hlm

Buku sejarah Nabi karya Syaikh Safiyyurrahman Al-Mubarakfuri ini secara keseluruhan memiliki 58 bahasan pokok yang ditulis tanpa menggunakan bab tertentu.

Kepenulisan buku ini merunut pada kronologi peristiwa sejarah, yang menjadi acuannya adalah urutan turunnya ayat Quran yang bersangkutan, hadis-hadis ahad dan mutawatir yang berkenaan dengan peristiwa terkait.

Buku Sirah Nabawiyah ini mengutip beberapa pendapat dan penelitian dari penulis sebelumnya.

Syaikh Safiyyurrahman Al-Mubarakfuri mengombinasikan pendapat para penulis dan peneliti yang paling baik dan kuat pendapatnya, kemudian beliau jadikan rujukan.

Kalaupun terdapat perbedaan peristiwa maka Syaikh Safiyyurrahman Al-Mubarakfuri mencari sumber  yang lebih kuat dan tepat. Beliau tak segan mengungkapkan pandangannya serta menuliskan hal yang ia anggap lebih tepat di dalam buku ini.

Pada awal penulisan buku, Syaikh Safiyyurrahman Al-Mubarakfuri mencoba menjelaskan kondisi masyarakat Arab sebelum Rasulullah saw lahir ke dunia. Beliau pun menjelaskan siapa keluarga Rasulullah dan bagaimana keadaan mereka kala masih ada di masa jahiliyah.

Setelah memaparkan garis keturunan Rasulullah saw, beliau menuliskan tahap kelahiran Rasulullah saw, saat itu seluruh alam semesta menyambut kelahiran Nabi Muhammad.

Syaikh Safiyyurrahman Al-Mubarakfuri menerangkan kondisi lingkungan Quraisy sebelum hadirnya nubuwah dan kejamnya permusuhan antar keluarga baik sebelum dan setelah turunnya nubuwah kepada Rasulullah saw.

Buku ini mencoba menerangkan kronologi kejadian secara runut, yang sebelumnya masih dianggap berserakan.

Buku ini juga mencatat dengan detil tahapan-tahapan kejadian penting dalam sejarah Islam. Seperti sejarah masyarakat sebelum adanya kenabian, proses dakwah di masa Makkah, dan penyebaran dakwah yang lebih luas ke Jazirah Arab.

Yang menjadi rujukan utama dalam buku ini yaitu tulisan sejarawan sebelumnya, misalnya merujuk pada buku Sirah An-Nabawiyah karya Ibnu Hisyam.

Dalam buku ini penulis cenderung lebih fokus pada aspek peperangan yang terjadi. Syaikh Safiyyurrahman Al-Mubarakfuri menuliskan tiap peperangan yang diikuti atau tidak oleh Rasulullah saw.

Saat menuliskan banyaknya peristiwa tersebut Syaikh Safiyyurrahman Al-Mubarakfuri memaparkan keunggulan sifat Rasulullah saw ketika manjadi komandan perang dan ahli strategi.

Kemudian menerangkan tentang kemuliaan dan akhlaq Rasulullah saw yang dituliskan rinci dan indah. Beliau pun mencatat bahwa tiap pencapaian yang didapat oleh umat muslim karena kemampuan Rasulullah dalam memberi contoh saat ada dalam lingkungan masyarakat dan betapa Nabi mempunyai kesesuaian antara ucap dan perilaku.

Pada akhir-akhir pembahasan buku, Syaikh Safiyyurrahman Al-Mubarakfuri menuliskan mengenai istri-istri Rasulullah saw, maupun wanita-wanita yang dijadikan hadiah dari para pemuka kaum di negara atau kerajaan lain.

Selain itu beliau juga menuliskan secara singkat dan padat mengenai sifat dan akhlaq Rasulullah saw secara personal dan bagaimana perlakuan terhadap sahabat maupun orang-orang yang memusuhi Rasulullah saw.

Kepengarangan

Imam Safiyyurrahman Al-Mubarakfuri dalam buku ini menceritakan tentang kisah hidup rasulullah secara runut dari sebelum kelahiran hingga sepeninggalan beliau. Dituliskan dengan rinci, komprehensif dan gaya kepenulisan yang ringan, namun tidak bertele-tele membuat kisah semakin menarik dan mudah dipahami oleh pembaca. Dengan menyabet juara pertama dalam mu’tar Islam yang pertama  di Pakistan pada tahun 1396 H mengenai Sirah Nabawiyah, menjadi bukti tambahan bahwa secara kepenulisan Syaikh Safiyyurrahman Al-Mubarakfuri sangat baik tanpa menghilangkan aspek ketepatan kejadian, dan keilmiahan dalam pembahasan

Penutup

Buku Sirah Nabawiyah ini memiliki gaya Bahasa yang sederhana, tidak bertele-tele dan sistematis. Menceritakan dari awal kisah sebelum hadirnya Rasul dan kondisi setelahnya membuat pembaca mudah memahami setiap kejadian yang ada.

Selain itu2 data-data yang digunakan sangat bervariasi karena memakai penelitian sebelumnya sehingga banyak mengungkap hal-hal baru. Beliaupun menyimpulkan dengan menggunakan metode yang dianggap mendekati kejadian yang ada.

Bagi saya, ada beberapa hal yang cukup mengganjal dari buku ini, yaitu kurang mengungkap interaksi antara para sahabat, padahal penulis lain mengangkat kisah-kisah para sahabat menjadi satu buku tersendiri. Seperti tatkala Nabi mempersaudarakan kaum Anshor dan Muhajirin, atau hijrahnya beberapa sahabat yang mesti berjuang luar biasa.

{ Add a Comment }